Gempa, Ancaman Serius Terhadap Kota

GEMPA, merusak datang lagi. Belum hilang derita di Tasikmalaya akibat gempa empat pekan sebelumnya, kini bencana serupa dengan kekuatan yang lebih besar menyerang Padang. Berbeda dengan gempa-gempa sebelumnya, gempa di Padang diikuti kebakaran, suatu ciri khas bencana gempa yang menyerang perkotaan. Hal yang serupa, dengan kebakaran yang lebih hebat, terjadi di Kobe, 17 Januari 1995, pukul 5.46 pagi ketika gempa 7,2 pada skala Richter (SR) melanda kota berpenduduk 1,5 juta jiwa itu. Semakin maju suatu kota, kebakaran setelah gempa semakin mengancam. Kita bisa bandingkan dengan gempa Yogyakarta, Sabtu, 27 Mei 2006, pukul 5.54, 6,3 pada skala Richter yang tidak diikuti kebakaran. Selain kebakaran, tsunami merupakan bencana ikutan dari gempa, khususnya bagi kota-kota di kawasan pesisir.

Gempa dan bencana ikutannya semakin dirasakan sebagai ancaman yang serius terhadap wilayah perkotaan. Ini disebabkan kerawanan kota yang tinggi akibat padatnya penduduk, penataan ruang yang tidak berbasis bencana, banyaknya gedung-gedung tinggi dan kurangnya latihan menghadapi bencana. Karena itu, setiap kota sudah selayaknya mempersiap-kan diri menghadapinya.

Kota-kota kita akan semakin rawan bencana karena sejak 2008, untuk pertama kalinya, jumlah penduduk perkotaan di Indonesia melebihi jumlah penduduk perdesaan (Widiantono & Soepriadi, 2009). Dari 94 kota otonom di Indonesia, dapat dibagi menjadi kota metropolis (10 kota dengan penduduk lebih dari 1 juta), kota besar (13 kota, 500 ribu-1 juta penduduk), kota sedang (56 kota, 100 ribu-500 ribu penduduk) dan kota kecil (8 kota, 50 ribu-100 ribu penduduk). Kota-kota yang rawan terhadap gempa adalah Bandung, Medan (metropolis), Padang, Denpasar, Malang, Cimahi (besar), Yogyakarta, Manado, dan Banda Aceh (sedang). Meskipun Jakarta mempunyai risiko menengah, karena kerentanannya yang tinggi, Pemerintah Daerah DKI Jakarta perlu segera membangun kesiapsiagaan warga DKI terhadap gempa. Program-program yang dapat dilakukan DKI itu seperti penyiapan skenario jika terjadi gempa, pelatihan dan simulasi gempa, penyuluhan rumah tahan gempa yang menyatu dengan proses IMB, dan pengembangan kurikulum kegempaan (Media Indonesia, 29/07/08).

Seperti bencana gempa sebelumnya, setelah kejadian di Padang, 30 September 2009, yang disusul dengan Jambi keesokan harinya, timbul pertanyaan dari masyarakat yang mendesak untuk dijawab karena dapat menimbulkan kesalahpahaman. Pertanyaan pertama yang selalu diajukan adalah dengan kemajuan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini, mengapa manusia belum berhasil juga mengetahui kapan akan terjadinya gempa merusak? Setelah gempa merusak Tasikmalaya, Padang, dan Jambi, kota manakah giliran berikutnya? Gempa terjadi karena pergerakan lempeng tektonik bumi secara tiba-tiba. Gerakan itu ditimbulkan energi yang terkumpul karena pergerakan lempeng yang saling mengunci. Hingga saat ini, dengan peralatan GPS (global positioning system), sudah dapat diketahui lempeng mana yang macet dan saling mengunci itu. Meskipun demikian, tidak dapat diketahui kapan energi yang tersimpan karena kemacetan itu akan dilepas dalam bentuk gempa.

Pertanyaan kedua adalah mengapa untuk daerah dengan jarak yang sama dari pusat gempa, kerusakannya dapat jauh berbeda? Laporan kerusakan akibat gempa Tasikmalaya, 2 September 2009 memang menunjukkan Kabupaten Su-kabumi mengalami kerusakan yang lebih parah daripada Kabupaten Cianjur. Padahal jarak Sukabumi ke pusat gempa lebih jauh. Kenyataan itu hanya bisa dijawab oleh keadaan tanah. Lapisan tanah keras akan bergerak bersama gempa, sedangkan tanah endapan cenderung memperbesar getaran gempa. Itu mirip halnya dengan cambuk, bagian yang keras sebagai terusan dari gagang cambuk bergerak seperti gagangnya, sedangkan bagian yang lentur bergerak jauh lebih dahsyat ketimbang gagangnya

Dari seismologi ke rekayasa gempa

Pertanyaan ketiga yang sering diajukan adalah, kalau gempa tidak bisa diramal kapan akan terjadi, apa yang harus dilakukan? Gempa, berikut mekanisme dan penjalaran gelombangnya di lapisan tanah, dipelajari dalam seismologi. Setelah perilaku gempa ini diketahui, manusia harus mampu memperkecil dampaknya terhadap kehidupannya. Untuk itu, digunakan rekayasa gempa (earthquake engineering).

Jadi, karena dalam seismologi kini belum diketahui juga tentang kapan gempa akan terjadi, marilah kita beralih ke rekayasa gempa untuk mengurangi dampak gempa yang sudah pasti suatu saat akan datang. Pusat perhatian dari rekayasa gempa adalah bangunan karena earthquakes don’t kill, but the buildings do (gempa itu tidak mematikan, yang membunuh adalah bangunan yang roboh karena gempa). Pembangunan rumah tahan gempa adalah salah satu aspekpenting dalam mengurangi dampak gempa.

Pertanyaan keempat, bangunan ini tahan gempa berapa Richter? Itu tidak dapat dijawab karena tidak ada kaitan langsung antara besaran gempa dan kekuatan bangunan. Besaran gempa ibarat ukuran petasan. Namun, dampak petasan juga tergantung jaraknya dari kita. Petasan besar tidak akan merusak kalau tempatnya jauh. Sebaliknya, petasan kecil sangat menghancurkan bila meledak dalam genggaman kita. Besaran gempa yang dipadukan dengan jarak (ke suatu bangunan) dan keadaan tanah (dari pusat gempa ke tanah di bawah suatu bangunan) mewujud dalam percepatan tanah. Hal terakhir itulah yang dapat dikonversi menjadi beban terhadap bangunan. Terhadap percepatan tanahlah suatu gedung dirancang, bukan terhadap besaran gempa. Di Jakarta, misalnya, berdasarkan SNI 03-1726-2002 (SNI = standar nasional Indonesia), gedung harus mampu menahan paling sedikit 0,15g (g = percepatan akibat gravitasi bumi = 9,81 m/detik2), tidak peduli berapa pun besaran gempanya. Sekadar catatan, berdasarkan hitungan empiris, gempa Tasikmalaya membuat tanah di Jakarta bergoyang sebesar 0,03g. Di Padang, gempa menyebabkan percepatan tanah hingga 0,30g seperti yang dipersyaratkan oleh SNI.

Gedung tinggi

Pertanyaan kelima, apa yang harus dilakukan saat terjadi gempa jika sedang di gedung tinggi? Perlukah ke luar dari gedung tinggi begitu terjadi gempa? Petunjuk yang harus dilakukan saat terjadi gempa banyak beredar. Di antaranya menyebutkan bahwa jika terjadi gempa dan kita sedang berada dalam rumah, usahakan secepatnya ke luar menuju tempat terbuka. Hal ini rupanya dipraktikkan begitu saja jika berada dalam gedung tinggi. Padahal, gedung tinggi berbeda dengan rumah. Perbedaan pertama, jarak tempuh untuk mencapai daerah luar gedung bisa 100 kali lebih jauh daripada jarak tempuh untuk ke luar rumah. Kedua, penghuni gedung tinggi dapat mencapai ratusan kali lebih banyak daripada rumah. Ketiga, penghuni rumah dapat keluar rumah dengan mencapai pintu, namun penghuni gedung tinggi, sebelum mencapai pintu harus melalui tangga darurat dan lantai dasar terlebih dahulu. Keempat, yang paling penting, pengawasan dan izin pembangunan gedung tinggi jauh lebih ketat daripada rumah tinggal. Sangat jarang terdengar ada gedung tinggi yang roboh total karena gempa kecuali jika tanah di bawah gedung itu mengalami likuifaksi seperti halnya Hotel Kuala Tripa di Aceh dan Hotel Ambacang di Padang. Likuifaksi adalah keluarnya air dari tanah berpasir saat digoyang gempa yang menyebabkan bangunan di alasnya ambles.

Dengan mempertimbangkan perbedaan-perbedaan itu, yang harus dilakukan jika ada gempa dan kita sedang berada di gedung tinggi adalah:
– Lindungi kepala dengan apa saja, seperti bantalan kursi, tas atau lainnya.
– Jauhi benda-benda getas, mudah pecah, dan mudah roboh seperti jendela kaca, lemari, dan lampu gantung.
– Cari tempat aman. Bawah meja adalah tempat terbaik. Jika tidak ada, merapatlah ke bagian terkuat dari gedung seperti kolom/tiang atau daerah sekitar lift /tangga darurat.
– Tunggu hingga getaran berhenti, namun bersiaplah menghadapi getaran berikutnya dari gempa susulan yang umumnya lebih kecil.

Perhatikan akibat gempa pada ruangan/gedung. Umumnya, gedung hanya mengalami kerusakan secara arsitektural (langit-langit jebol, pintu dan jendela rusak, dan sebagainya). Dalam hal seperti ini, tidak ada gunanya berusaha ke luar gedung melalui tangga darurat. Mengalami guncangan dari gempa susulan selama berada di tangga darurat, dapat menyebabkan jatuh. Hanya jika gedung tersebut rusak berat (dan ditakutkan akan runtuh total karena gempa susulan ini jarang terjadi), Anda sebaiknya ke luar gedung menggunakan tangga darurat. Selama di tangga darurat, usahakan selalu berpegangan pada hand-rail.
Singkatnya, jika ada gempa dan kita sedang berada di gedung tinggi, tidak perlu ke luar gedung saat itu juga. Gempa terjadi dalam waktu singkat dan gempa berikutnya (susulan) kekuatannya jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan gempa utama. Selain itu, membangun gedung tinggi harus melewati panel pakar yang tidak akan membiarkan suatu gedung tinggi dibangun di bawah standar kemampuan menahan gaya gempa tertentu (ward)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Cuaca